Pengembangan Teknologi Pengolahan Limbah Komunal dan IPLT

Akses terhadap sanitasi merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk mendukung kesehatan masyarakat, lingkungan, dan kesejahteraan ekonomi secara berkelanjutan. Namun akses terhadap sanitasi belum dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat Indonesia. Akses sanitasi air limbah skala kota berupa jaringan air limbah tidak dapat melayani seluruh kota. Hal ini dapat disebabkan oleh padatnya daerah permukiman atau jarak permukiman yang terlalu jauh dengan jaringan air limbah dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kota. Fasilitas pengolahan air limbah setempat dikembangkan untuk mengatasi masalah keterbatasan akses air limbah skala kota. Pengoperasian fasilitas pengolahan air limbah setempat, seperti tangki septik individu dan IPAL komunal, sebagian besar belum memperhatikan pengelolaan lumpur tinja. Padahal lumpur tinja yang terakumulasi dalam fasilitas pengolahan akan mengganggu proses dekomposisi air limbah hingga dapat menyebabkan kualitas efluen air limbah tidak memenuhi baku mutu. Di sisi lain, banyak masyarakat memanfaatkan lumpur tinja secara ilegal dan melakukan praktek daur ulang lumpur tinja yang tidak aman. Lumpur tinja seharusnya disedot secara berkala dan diolah dalam Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) terpusat skala kota.

Hasil studi IPLT menunjukkan tidak optimalnya fungsi IPLT terpusat yang ada yang disebabkan kendala jarak ke IPLT sistem terpusat, kapasitasnya yang tidak sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk, kurangnya kesadaran masyarakat, lumpur tinja sebagai satu-satunya pasokan lumpur semakin berkembangnya sistem pengolahan air limbah yang menghasilkan sedikit lumpur, serta tidak dapat menjangkau permukiman padat. Oleh karena itu, pada tahun anggaran 2018 sistem pengolahan tersebut dikembangkan menjadi skala prototipe. Pendekatan yang digunakan adalah IPLT merupakan bagian dari komponen sistem sanitasi setempat (on site) atau sistem terdesentralisasi (desentralized system) yang dikembangkan untuk menggantikan pendekatan sistem konvensional dan/atau sistem terpusat yang dinilai kurang berhasil mengatasi pencemaran air di daerah perkotaan. Penelitian ini akan diterapkan di kawasan permukiman dengan akses sanitasi rendah, memiliki keterbatasan akses ke IPLT terpusat, dan memiliki potensi daur ulang baik sebagai urban farming, lansekap, maupun perbaikan badan air di kawasan permukiman. Pengembangan prototipe pengolahan air limbah terintegrasi antara pengolahan air limbah dengan lumpur tinja dan air limbah dengan limbah organik lainnya secara komunal di kawasan permukiman dengan akses sanitasi terbatas. Pelaksanaan penelitian ini didasarkan pada kemungkinan integrasi pengelolaan air limbah dengan lumpur tinja dan limbah organik lainnya di kawasan permukiman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitataif digunakan untuk mengevaluasi sistem pengelolaan secara komunal. Sementara pendekatan kuantitatif digunakan dalam evaluasi kinerja teknologi IPAL dan IPLT.