Pengembangan Konsep Tata Kelola dan Rencana Bisnis Pengelolaan Material Debris

Beberapa jenis reruntuhan bangunan dampak gempa Palu dapat dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi untuk menyediakan bahan bangunan dalam rangka rekonstruksi pasca-bencana sekaligus mengurangi dampak lingkungan seperti beton, dinding atau tembok pasangan bata, kayu, dan logam. Reruntuhan bangunan pasca-bencana dapat digunakan lagi sebagai material konstruksi dengan diolah menggunakan crusher dan disaring menjadi agregat atau chiping.

Untuk menyusun advis teknis atas penelitian ini, tim peneliti melakukan sejumlah langkah meliputi survei instansional, diskusi di tingkat pusat, diskusi berkelompok terfokus di daerah, observasi di lokasi, dan survei responden terkait pemanfaatan reruntuhan tersebut. Adapun topik yang dibahas dalam Focus Group Discussion di daerah yang diikuti perwakilan lembaga adalah profiling, structuring, documenting, dan exit strategy dari tata kelola debris bencana Palu. Tim peneliti juga telah melakukan observasi lapangan di TPA Kawatuna, tepi Teluk Palu, dan tempat usaha perajin batako. Selain itu, ada kegiatan survei responden untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat guna mengetahui persepsi masyarakat terhadap tata kelola debris.

Berdasarkan hasil survey, hanya 82% material reruntuhan yang dapat dimanfaatkan kembali. Rencana pemanfaatan jenis debris dari dinding dan struktur bangunan adalah untuk batako, paving, dan urugan tanggul laut. Hasil olah data menunjukkan bahwa 56% responden setuju terhadap gagasan pemanfaatan debris menjadi batako, sedangkan 44% responden kurang setuju dan tidak setuju. Mengenai gagasan pembuatan paving ditemukan 57% responden setuju menggunakan kembali debris menjadi paving, sedangkan 43% kurang setuju dan tidak setuju. Selanjutnya berdasarkan hasil olah data kuisioner, sebagian besar masyarakat ingin terlibat di dalam kegiatan tata kelola debris bencana, terutama pada kegiatan pemilahan dan proses produksi. Sebanyak 34,4% masyarakat ingin terlibat dalam pemilahan dan 48,4% dalam proses produksi.